Wednesday, April 8, 2009

Penghakiman

"Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini:
sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar."
Yohanes 12:31

Bagi Yesus terlihat jelas di depan apa yang kan terjadi,
Ia akan disalibkan, karena itu ia memberi pesan tuk diikuti,
dengan membuat diri sebagai contoh yang kongkrit,
nyawa jangan dipertahankan, justru karena itu kan hilang,
tetapi tatkala tidak dipertahankan, ia akan mendapatkannya kembali,
buktinya ialah: Kristus sendiri,
Ia dengan taat naik ke kayu salib,
salib tidak akhir dari segala pengalaman di sini,
sebab pada hari yang ketiga Ia bangkit dan berseri.

Pada saat Kristus mengucapkan sabda ini,
Ia memperhadapkan para murid pada satu opsi,
pilihan yang diambil orang itulah sebuah vonnis,
tiap orang menetapkan sebuah ketetapan bagi diri,
ikut Tuhan tak pertahankan nyawa yang diberi,
atau akan berjuang untuk diri sendiri,
mereka yang tak ikut dia kan dicampakkan dari sirkulasi,
keluar persekutuan dari orang orang terpilih,
surga takkan bicara pada mereka ini,
sebagaimana surga memberi respon pada Tuhan,[1]
tatkala Ia berseru dalam ketaatan.

Penghakiman telah mulai di sini,
tiap tiap pribadi yang tentukan apa yang dia pilih,
jika ia ikut Tuhan mulai dari dunia ini,
maka kepadanya diberi akses ke negeri ilahi,
tetapi jika ia tentukan tolak Tuhan yang bersabda,
maka ia sendiri yang tentukan yang dia dapatkan itu apa,
sejauh mana ia mampu untuk meraihnya,
tetapi sebuah tanya menggema di dalam dada,
dapatkah ia raih surga dengan usahanya,
bukankah keselamatan itu adalah kasih karunia?



[1] Yohanes 12:28

Tuesday, April 7, 2009

Pandangan

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga,
Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem."
Lukas 9:51

Yesus sadar bahwa hidup-Nya akan berakhir di Yerusalem,
karena waktunya sudah hampir genap Ia pun ambil sikap,
pandangan dan jalannya di arahkan ke kota Sion,
tidak menolak penderitaan karena pemahaman yang mantap,
hadir di sini di dalam rangka mati bagi orang berdosa yang tak punya harap,
konsistensi atas tujuan harus dijalankan dengan mantap,
dengan jalan demikian keselamatan manusia jadi tetap,
semuanya itu dilakukan dalam kepatuhan yang tiada kuncup.

Jika Yesus sadar akan tujuan hidup-Nya di dunia ini,
bukankah seyogianya daku pun harus tahu mengapa daku di sini,
firman hidup ajarkan para pengikut jadi saksi,[1]
menuturkan kembali apa yang dilakukan manusia ilahi,
menuturkan kisah tak hanya dengan lidah yang menari nari,
lebih baik dengan tangan yang bertindak dengan lihai,
mengulang kembali apa yang dilakukan sahabat sejati,
yakni memberi diri bagi orang yang perlu dilayani.

Sekarang pandanganmu hai jiwaku arahkan pada tugas ini,
menemui mereka yang butuh uluran tangan tuk membelai,
mereka yang butuh hati yang turut merasakan rasa nyeri,
karena duka dan derita yang menerpa tiap hari,
sebab itulah yang dilakukan Yesus tatkala Ia pergi,
mengarahkan diri-Nya ke arah kematian yang menanti,
di kota Yerusalem yang membantai para nabi,
maka engkau pun dapat upah sama seperti para nabi [2].



[1] Kisah Para Rasul 1:8
[2] Matius 5:12

Monday, April 6, 2009

Berjaga-jaga

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh
ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Matius 26:41

Lima hari lagi kan tiba Jumat Agung,
dimana Kristus dikenang di kayu salib Ia tergantung,
menanggung dosa dan pelanggaran setiap orang,
yang pernah hidup di dunia ini, dulu, nanti dan juga sekarang,
selama minggu ini penderitaan yang dialaminya kita kenang,
bagaimana Ia menderita dan akhirnya jadi pemenang,
karena tempat Ia dikuburkan telah jadi kosong,
kebangkitan telah jadi kenyataan yang tak bisa ditentang.

Di hari kedua Minggu Daun Palma ini,
pesan Yesus tentang doa disuarakan di Taman Getsemani,
dua sisi kehidupan yang harus diperhatikan tak henti,
berjaga jaga dan berdoa sama seperti mata uang yang dua sisi,
keduanya menjadi kata kunci,
tuk memenangkan segala pergumulan yang kita hadapi,
tatkala kita melakukannya maka kita kan pegang kendali,
atas kelemahan daging yang kita warisi,
mulai dari Adam hingga kini,
daku pun ada di dalam kelemahan ini.

Pada saat masalah daging telah terkendali,
roh kita pada hakekatnya suka menuruti,
kehendak Allah yang ditanamkan di dalam hati,
Kristus mengalaminya di Taman Getsemani,
Ketakutan akan penderitaan membuat-Nya serasa mati,[1]
namun Ia memenangkan pergumulan-Nya dengan baik,
itu menjadi sebuah teladan yang pas bagi setiap insan di sini,
bejaga jaga dan berdoa seperti yang dilakukan-Nya tadi,
membuat kita dapat menang terhadap segala masalah yang dihadapi,
semuanya itu dapat jadi sebuah jaminan kemenangan tersendiri,
bagi yang percaya kepada Dia yang jadi teladan yang pasti.



[1] Matius 26:38

Saturday, April 4, 2009

TUHAN Adalah Raja

"Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi;
pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya."
Zakaria 14:9

Segala sesuatu akan berakhir dunia ini pun demikian juga,
para nabi di zaman purba juga telah melihatnya,
ada satu kepastian bagi kita orang percaya,
jika tiba waktunya untuk berakhir maka kita akan jaya,
Tuhan yang kita kenal sebagai Bapa,
akan memerintah secara kasat mata seluruh alam semesta,
pada waktu itu takkan ada lagi penyimpangan bahkan dalam sanubari,
sebab seluruhnya berada dalam keadaan harmoni.

Orang beriman turut serta memerintah bersama Dia[1],
namun pemerintahan akan berjalan karena Dia,
anak anak-Nya menjalankan segala perintah-Nya,
sebab segala sesuatu ada di dalam Dia dan oleh Dia,
betapa indahnya turut memerintah bersama Dia,
kehendak kita dan kehendak-Nya selaras bersama,
takkan ada distorsi dalam hati kita dan hati-Nya,
semua itu terjadi tatkala Tuhan menjadi Raja.

Wahai jiwaku engkau tidak harus tunggu lama,
semuanya itu bermula di sini di dalam dunia nyata,
belajarlah menyelaraskan kehendakmu dengan kehendak-Nya,
bukankah Tuhan Yesus telah memberi teladan-Nya,
di dalam Dia sempurna serasi kehendak-Nya dengan Bapa,
di dalam Dia sungguh sangat nyata Tuhan itu adalah Raja,
dengan pertolongan Roh Kudus hal itu dapat jadi nyata,
jadi tidak ada alasan bagimu untuk tidak mengupayakannya.



[1] Wahyu 22:5

Friday, April 3, 2009

Bilur

"Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita
ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."
Yesaya 53: 5b

Di hari keenam minggu Judika firman ingatkan daku penderitaan Kristus,
tubuh-Nya yang berbilur bilur darah pun menetes,
betapa pedihnya tubuh yang kena cambuk lalu jadi lemas,
karena darah mengalir dari sekujur tubuh yang di dera tanpa batas,
ngeri daku mengingatnya sebab seharusnya dakulah yang ada di sana,
Ia menggantikan saya tergantung di salib karena kasih-Nya,
darah yang menetes itu menjadi kesembuhan bagi saya,
sembuh dari dosa dan segala yang mendukakan hati Allah.

Darah begitu penting bagi Allah itu yang diajarkan Perjanjian Lama,
darah tidak diperuntukkan bagi kita umat manusia,
darah disajikan demi kepentingan Allah belaka,
tatkala imam besar membawa darah domba ke hadapan hadirat-Nya,
di ruang Maha Kudus dalam Bait Allah yang ada di dunia,
mata orang beriman di zaman dulu tidak melihatnya,
tetapi mata hati melihat darah dipercikkan ke tahta kasih karunia,
darah itu menyenangkan hati Allah, hingga Ia mengampuni segala dosa umat-Nya,
Di mana pun orang beriman itu berada.

Daku pun tidak dapat melihat darah Kristus itu menetes,
namun mata hatiku melihat darah itu dibawa ke hadirat Allah di surga,
darah yang tiada noda dan cacat cela selama-lamanya,
di lihat Allah dan menyenangkan hati-Nya,
darah itu dibawa Yesus ke sana demi aku juga,
sehingga dalam diriku pun Allah melihat olesan darah yang berharga,
hati-Nya pun dipuaskan tatkala melihat diri hamba,
lalu apakah daku dapat terus di dalam dosa,
itu sebuah tanya yang dari orang yang tidak pernah nikmati kasih karunia,
sebab darah Yesus terus mengalir dalam hidup kita,
sebagaimana terlihat dalam perjamuan Tuhan kita yang dilayankan Gereja.

Thursday, April 2, 2009

Berteriak

"TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong,
dan Engkau telah menyembuhkan aku."
Mazmur 30:3

Mazmur ini dinyanyikan pada saat penahbisan Bait Suci,
penahbisan membuat Bait itu segera beroperasi,
di dalamnya Allah hadir tuk menyertai,
umat yang telah dipilih-Nya dari antara segala negeri,
sekarang karena Bait Suci telah berdiri,
ada tempat bagi Allah untuk dijumpai,
orang saleh di zaman dulu berteriak di sini,
lalu mendapatkan apa yang dipinta di dalam hati.

Sekarang Bait Allah bukan lagi bangunan,
melainkan dimana orang percaya membuat persekutuan,
dimana berkumpul dua atau tiga orang beriman,
di sanalah Allah pasti dapat ditemukan,
teriakan minta tolong di sana dapat disertakan,
di sana pun kita menemukan kesembuhan,
sebagaimana orang beriman di zaman dahulu kala temukan,
kesembuhannya pada Bait Allah dimana kekekalan menyatu dengan kekinian.

Kesembuhan dari Allah membuat kita ditinggikan,
demikian pengalaman orang beriman di sepanjang zaman,
maka daku pun akan mendapat bagian dalam pengalaman,
ditinggikan Allah dalam hidup yang sedang berjalan,
syukurku menjadi satu keharusan sebagai tanda dari iman,
yang hidup dan berkarya serta menyenangkan hati Tuhan,
syukur bukan semata mata berupa sebuah pujian,
syukur juga dapat berbentuk sebuah pernyataan,
menyatakan kepada dunia ini bagiku siapa itu Tuhan,
marilah kita bersama nyatakan sebuah pernyataan iman,
dalam bentuk kata dan karya yang kelihatan,
melalui itu orang kan tahu siapa kita di hadapan Tuhan.

Wednesday, April 1, 2009

Tabib

"Sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau."
Keluaran 15:26c

Di hari ketiga dalam minggu Judika,
firman memperkenalkan padaku sisi lain dari Sang Pembela,
tabib yang menyembuhkan itulah Dia,
sebuah tanya muncul dalam kalbu dari sakit apa daku disembuhkan-Nya,
daku harus biarkan firman hidup yang berbicara,
bukan apa yang kuinginkan menjadi nyata,
sebab banyak orang membuat asa,
agar sakit jasmani yang diderita jadi sirna,
bukan demikian yang aku terima,
Allah ucapkan ini pada orang Israel di ‘Mara’[1]
di sana Israel bersungut sungut karena air pahit rasanya,
lalu Musa ber-Judika di hadapan Allah, sepotong kayu jadi penawarnya.

Sang Tabib sembuhkan daku dari kepahitan hidup,
sungut sungut jadi virus yang menyerap,
berinkubasi dalam hati yang tak tahu bersyukur,
kesembuhan jadikan daku bermazmur,
kepahitan hidup jadi sembuh hadirlah syalom,
sama seperti Israel setelah Mara ketemu Elim,
di sama mereka temukan sumur dan korma,[2]
Israel berkemah di sana,
Kita pun kan berkemah di syalomnya Allah.

Tidak ada jaminan bahwa kita takkan gering lagi,
namun jaminannya ialah: Sang Tabib kan sertai,
karena Ia Tabib Yang Maha Agung maka kesembuhan sudah pasti,
itulah Dia Sang Tabib yang juga Sang Hakim yang mengadili,
keadilan-Nya yang membuat Dia mengobati,
setiap penyakit yang menerpa hati,
dari setiap insan yang sudah diberi,
kasih karunia dan syalom yang tak pernah berhenti.



[1] Keluaran 15:22-26
[2] Keluaran 15:27